Oleh: Bagus Setyoko Purwo
BUKAN
HANYA SATU KATA, MELAINKAN BERRIBU-RIBU KATA HINGGA MENJADI TUMPUKAN
PARAGRAPH YANG KITA BACA SAAT INI SELALU SENTRAL PERMASALAHANNYA
TENTANG CINTA DAN CINTA LAGI. BOSEN AKH…. Bête-bete akh…. Gak LOgis Aj4
la91….
Dunia ini tidak sebatas daun-daun yang ada di dahan dan berguguran tersapu angin.
Kita
singgung cinta sebatas pengetahuan yang berkembang di usia kita.
Bukankah awal mula kehadirannya di dahului oleh pertukaran tatapan
mata? Bukankah awal keakrabannya di hadiri oleh pesan-pesan singkat
yang seolah-olah saling memuji kelebihan masing-masing? Dan bukankah
kita juga suka tidur satu selimut, mandi satu bath, atau bahkan
seringkali kita menyetubuhi cinta secara ilusi? Cukuplah hal-hal itu
sebagai informasi tambahan kita tentang cinta.
Ada
satu alternative terbaik untuk kita dalam menerima tamu agung, Nur
Mahabbah (Cahaya Cinta). Ketika ia mengetuk pintu nurani kita, maka
terimalah ia layaknya utusan Kanjeng Nabi SAW. Ketika ia mengungkapkan
untuk bermalam di ruang jiwa kita, maka berilah sebuah kamar kecil yang
sederhana untuk sekedar melepaskan kelelahannya. Dan satu yang
terpenting sebagai penghiburnya: hiasilah malam-malam bersamanya dengan
ayat-ayat keagungan Tuhannya, Rabb Al-Falaqq.
Syair-syair kehadiranmu dan kealphaan diriku dalam memahami wujudmu:
Apa yang ada dalam air seperti apa yang aku rasakan padamu
Mengalir selalu hingga tak kenal waktu
Apa yang ada dalam tubuhmu (baca: Cinta) seperti darah-darah nyawaku
Mempertahankan hidup hanya untukmu (cinta) dan keridhoan Tuhanmu
Apa yang ada di setiap syair-syairku
Bukanlah sikap kesungguhan hatiku bersamamu (Cinta),