Oleh: Bagus Setyoko Purwo
Di kejauhan
Nampaknya bapak kepala negara akan berbicara
Kita hanya rakyat biasa yang terdiam seribu bahasa
Aura istana pun bercahaya menyambut para tamu
Mereka serentak melemparkan senyum di muka istana
Mereka juga katakan senang bertamu di negara kita
Bapak kepala negara berkata seadanya
Inilah negeri kami yang bersahaja
Rakyat berbalik bertanya siapa yang paling kaya
Di keujungan
Janganlah berbisik di bilik-bilik istana
Untuk apa berbisik jika tidak bersuara
Beberapa meter dari
Anakku mati tercekik kekejaman negeri ini
Cermin istana
Pantulan sinar Tuhan di pagi hari
Petunjuk jalan bagi yang sejati
Ini siapa.. Kenapa dengan wajahku
Semua tamu berbalik Tanya
Ini pasti bukan aku.. Aku juga... Tubuhku kenapa
Bapak kepala negara terpatung di sudut depan
Bapak kepala negara membuka kebenaran
Bapak kepala negara siap dengan keadaan
Keadaan yang mencengkam dalam bahasa batin
Mereka tidak melihat sisi batin dimensi gaib
Ini hanya ada di negeriku
Ini sebuah pertanda buruk bagimu
Dan aku selaku kepala negara yang pertama darimu
Kau lihat sekujur tubuhmu di cermin istana negeriku
Jangan kau bantah wujud aslimu di muka cermin