Mahar Cinta
Bagus Setyoko PurwoDi suatu malam yang penuh dengan tatapan curiga
AKU mencurahkan ini di kamar tidur kamar kesendirianku.. ibu adikku sedang tertidur pulas
Malam itu tidak pernah sirna dari langkah nyataku
Langkah-langkahku yang disengaja meninggalkan jejak di matamu
Bukan seekor kecowa yang ada di hadapanmu
Aku tak ubahnya seperti kaum laki-laki lainnya
Tersudutkan di suatu kota besar tempatmu berteriak-teriak di daunku
"kau kecowa" "Najis" "Untuk apa kau mendekat padaku"
Aku hanya setetes embun di mata indahmu
tanpa perlu kau menduga akulah yang membasahi mimpimu
Terganggu kah engkau dengan jiwaku
menjelma melebihi seramnya iblis
Itu aku, jika kau puas bahwa kau ingin aku seperti itu
ada yang salah dalam ucapanmu
terlalu cepat tarian jari-jarimu di lantai heandphonemu
kau lupa tanda baca dan ejaan EYD
begitu tulusnya kau menghormati aku
aku yang masih menjelma sebagai kecowa
adakah mahar yang mampu ku tebus untuk akhir nafaskuy nanti
agar aku bahagia dialam sana
agar ada suatu pengakuan cinta bahwa aku sudah bisa mencintai dan di cintai
Entah itu kau atau wanita-wanita lainnya
yang begitu remuk hatinya menerima kesadaranku
berjalan seperti terhuyung-huyung
mahar cinta yang tidak semegah kotamu
mahar cinta yang tidak sebesar gunung
mahar cinta yang tidak sedalam palung laut
mahar cinta yang tidak sekeras batu karang
mahar cinta yang selembut wajahmu
malam ini aku sungguh menanti mahar itu
jejeran bintang di atas sana atau buah hati rinduku
sebagai mahar cintaku
tidak untukmu
tidak untuk keraguanku
untuk kepastianku
siapa yang rela menjadi permaisuri kerajaan cintaku nanti